To CELOTEH BINTANG ^_^

click to create your own

Sabtu, 31 Maret 2012

Kajian Kemanfaatan Alat Perga

KAJIAN KEMANFAATAN ALAT PERAGA

A.    Kajian Teori Alat Peraga
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilaksanakan setiap hari, merupakan kehidupan dari suatu kelas, dimana guru dan peserta didik saling terkait dalam pelaksanaan kegiatan yang telah direncanakan oleh guru. Keberhasilan kegiatan tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab guru, karena guru merupakan pengelola tunggal di dalam kelas serta guru menjadi model dalam kegiatan pembelajaran. Karena dalam proses pembelajaran murid hanya  terpaku terhadap gurunya saja. Seolah-olah guru menjadi model di kelas. Oleh karena itu bila peserta didik kurang bias menunjukan keterampilan dalam suatu mata pelajaran, maka tuduhan kekurangberhasilan juga tertuju kepada guru. Pelajaran matematika merupakan pelajaran yang kurang disukai oleh anak, cenderung membosankan sehingga anak menjadi bosan dalam pelajaran matematika.oleh karena itu kita sebagai guru harus bisa membuat anak menjadi lebih senang dalam pelajaran matematika.
Bruner (dalam Orton,1992) menyatakan bahwa anak dalam belajar konsep matematika melalui tiga tahap, yaitu enactive, iconic, dan symbolic. Tahap enactive yaitu tahap belajar dengan memanipulasi benda atau obyek konkret, tahap econic yaitu tahap belajar dengan menggunakan gambar, dan tahap symbolic yaitu tahap belajar matematika melalui manipulasi lambang atau simbol. pengalaman belajar anak sangatlah penting. Pengalaman akan membentuk suatu pemahaman apabila ditunjang dengan alat bantu belajar, yang berfungsi mengkonkretkan materi-materi matematika yang bersifat abstrak.
Dengan demikian alat bantu belajar atau biasa disebut media akan berfungsi dengan baik apabila media tersebut dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna, mengaktifkan dan menyenangkan anak. Media atau alat peraga memiliki peranan yang
sangat penting bagi guru dalam kegiatan pembelajaran sehingga guru lebih mudah dalam menyaimpaikan materi atau konsep-konsep pembelajaran yang ingin disampaikan terhadap peserta didik.



B.    Pengertian dan Fungsi Alat Peraga
Media pembelajaran merupakan alat atau sarana  terbentuknya  suatu pembelajaran yang melibatkan benda atau alat yang ada di lingkungan sekolah atau benda yang sudah di siapkan oleh guru. Berdasar fungsinya media dapat berbentuk alat peraga dan sarana. Namun dalam keseharian kita tidak terlalu membedakan antara alat peraga dan sarana. Sehingga semua benda yang digunakan sebagai alat dalam pembelajaran matematika kita sebut alat peraga matematika.  
Menurut Estiningsih (1994) alat peraga merupakan media pembelajaran yang mengandung atau membawakan ciri-ciri konsep yang dipelajari. Contoh alat-alat peraga yang ada di kelas: papan tulis, buku tulis, dan daun pintu yang berbentuk persegipanjang dapat berfungsi sebagai alat peraga pada saat guru menerangkan bangun geometri dalam persegipanjang. Fungsi utama alat peraga adalah untuk mempermudah anak dalam memecahkan masalah, karena anak dapat melihat langsung benda atau alat peraga yang dipergunakan, sehingga mempermudah anak memahami konsep yang sudah dipelajari.
Dengan melihat, meraba, dan memanipulasi alat peraga maka anak mempunyai pengalaman nyata dalam kehidupan tentang arti konsep. Sedangkan sarana merupakan media pembelajaran yang fungsi utamanya sebagai alat bantu untuk melakukan pembelajaran. Dengan menggunakan sarana tersebut diharapkan dapak memperlancar pembelajaran. Contoh: papan tulis, jangka, penggaris, lembar tugas (LT), lembar kerja (LK), dan alat-alat permainan.

C.    Tujuan Penggunaan Alat Peraga
1.      Memberikan kemampuan berpikir matematika secara kreatif.
Adanya alat peraga itu memudahkan peserta didik untuk berpikir kreatif dalam memecahkan masalah matematika.

2.      Mengembangkan sikap yang menguntungkan ke arah berpikir matematika.
Dengan alat peraga, peserta didik dapat lebih mudah untuk belajar dan berpikir secara matematik. Sehingga mereka percaya akan kemampuan matematikanya.

3.      Menunjang matematika di luar kelas, yang menunjukkan penerapan matematika dalam keadaan sebenarnya.
Setelah peserta didik menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran dikelas, guru berharap mereka akan mampu menerapkan hal yang telah dipelajari dalam kehidupan sehari-sehari.

4.      Memberikan motivasi dan memudahkan abstraksi.
Dengan alat peraga diharapkan peserta didik lebih memperoleh pengalaman-pengalaman yang baru dan menyenangkan, sehingga mereka dapat menghubungkannya dengan matematika yang bersifat abstrak.

5.      Dari tujuan di atas diharapkan dengan bantuan penggunaan alat peraga dalam pembelajaran dapat memberikan permasalahan-permasalahan menjadi lebih menarik bagi anak yang sedang melakukan kegiatan belajar.
Karena dengan alat peraga, peserta didik dapat berinteraksi langsung sehingga mereka dapat memecahkan permasalahan dengan pengalaman-pengalaman mereka..

D.   Penggunaan Alat Peraga dalam Pembelajaran
            Pada umumnya hanya sebagaian kecil dari peserta didik yang dapat memanfaatkan alat peraga tersebut, karena guru tidak menyediakan banyak alat peraga sehingga hanya beberapa murid saja yang dapat berinteraksi langsung dengan alat peraga, kurangnya penjelasan guru tentang bagaimana cara menggunakan alat peraga, dan atau mungkin guru lebih doominan dalam penggunaan alat peraga.. Untuk meminimalisasi dominasi guru dalam penggunaan alat peraga, maka perlu direncanakan dan dikembangkan alat peraga untuk kelompok atau individu.
            Ada beberapa keuntungan bila alat peraga digunakan untuk kelompok, antara lain:
1.      Adanya tutor sebaya dalam kelompok, akan dapat membantu guru dalam menerangkan pemanfaatan alat peraga kepada temannya.
2.      Kerjasama yang terjadi dalam penggunaan alat peraga kelompok akan membuat suasana kelas lebih menyenangkan.
3.      Banyaknya anggota kelompok yang relatif kecil akan memudahkan peserta didik untuk berdiskusi dan bekerjasama dalam pemanfaatan alat.

            Namun demikian ada dua hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan alat peraga kelompok yakni:
1.      Tugas-tugas pelengkap dari alat peraga/sarana yang menjadi tanggung jawab kelompok hendaknya mengaktifkan semua anggota kelompok, agar tidak terjadi dominasi oleh seorang anggota kelompok.
2.      Pemilihan anggota kelompok dalam melaksanakan tugas-tugas pemanfaatan alat peraga haruslah secermat mungkin sehingga tidak terjadi penumpukan peserta didik yang pandai atau sebaliknya dalam satu kelompok.

E.    Prinsip-Prinsip Umum Penggunaan Alat Peraga
Selain mempersiapkan langkah-langkah penggunaan alat peraga, seperti persiapan guru, lingkungan, persiapan peserta didik, maka perlu pula mengetahui prinsip-prinsip umum dalam penggunaan alat peraga, di antaranya sebagai berikut :
1.    Penggunaan alat peraga hendaknya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2.    Alat peraga yang digunakan hendaknya sesuai dengan metode/strategi
     pembelajaran.
3.    Tidak ada satu alat peragapun yang dapat atau sesuai untuk segala macam kegiatan belajar.
4.    Guru harus terampil menggunakan alat peraga dalam pembelajaran agar anak tidak jenuh dalam belajar dan anak menjadi lebih dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru.
5.    Peraga yang digunakan harus sesuai dengan kemampuan siswa dan gaya belajarnya agar siswa dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru.
6.    Pemilihan alat peraga harus obyektif, tidak didasarkan kepada kesenangan pribadi.
7.    Keberhasilan penggunaan alat peraga juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang kondusif suasana kelas yang menyenangkan.

F.    Persyaratan Alat Peraga
Menurut E.T. Ruseffendi (dalam Pujiati, 2009) ada beberapa persyaratan yang
harus dimiliki alat peraga agar fungsi atau manfaat dari alat peraga tersebut sesuai
dengan yang diharapkan dalam pembelajaran.
1.        Tahan Lama
2.        Bentuk dan warnanya menarik
3.        Sederhana dan mudah dikelola
4.        Ukurannya sesuai
5.        Dapat menyajikan konsep matematika baik dalam bentuk real, gambar, atau diagram
6.        Sesuai dengan konsep matematika
7.        Dapat memperjelas konsep matematika kadan bukan sebaliknya
8.        Peragaan itu supaya menjadi dasar bagi tumbuhnya konsep berfikir abstrak bagi siswa
9.        Menjadikan siswa belajar aktif dan mandiri dengan memanipulasi alat peraga
10.    Bila mungkin alat peraga tersebut bisa berfaedah lipat (banyak)
Menurut kami prinsip-prinsip dan persyaratan perlu dalam pelajaran matematika selain pelajaran menjadi aktif, dengan menggunakan alat peraga membuat pelajaran menjadi menyenangkan, serta dapat lebih cepat diterima oleh murid pelajaran atau materi yang diberikan oleh guru dibandingkan guru hanya menjelaskan secara teori saja.

G.    Pemilihan Alat Peraga
Pemilihan alat peraga yang tepat dan digunakan secara benar diharapkan siswa mampu menghasilkan generalisasi. Dengan bantuan alat peraga yang sifatnya konkret, siswa diharapkan dapat memahami ide-ide dasar yang melandasi sebuah konsep, mengetahui cara membuktikan suatu rumus atau teorema, dan dapat menarik suatu kesimpulan dari hasil pengamatannya. Setelah siswa mendapat kesempatan terlibat dalam proses pengamatan dengan bantuan alat peraga, maka di harapkan akan tumbuh minat belajar matematika dalam dirinya. Selain tumbuhnya minat, siswa dapat di bangkitkan motivasinnya. Melalui demonstrasi penggunaan alat peraga matematika, guru dapat merangsang munculnya motivasi dalam diri siswa untuk mempelajari materi lebih lanjut. Dengan variasi pembelajaran siswa yang merasa penasaran dan ingin lebih jauh tentang konsep yang di pelajarinya akan terus berusaha mempelajari konsep itu lebih mendalam. Selain itu, pengajaran dengan menggunakan alat peraga akan dapat memperbesar perhatian siswa terhadap pengajaran yang dilangsungkan, karena mereka terlibat dengan aktif dalam pengajaran yang dilaksanakan. Dengan bantuan alat peraga matematika, siswa akan semakin mudah memahami hubungan antara matematika dan lingkungan alam sekitar. Siswa akan semakin mudah memahami kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

H.   Kegagalan Penggunaan Alat peraga
Dalam penggunaan alat peraga tidak hanya memberikan dampak positif terhadap peserta didik dalam memahami sebuah konsep materi pelajaran terutama matematika, tetapi ada juga dampak negatif berupa kegagalan alat peraga yaitu jika alat peraga yang digunakan hanya sekedar sajian yang tidak memiliki nilai-nilai yang tidak menunjang konsep-konsep dalam matematika, tidak disajikan pada saat yang tepat, memboroskan waktu, dan tidak menarik dan mempersulit konsep yang dipelajari.

I.         Analisis Kebutuhan Alat Peraga Matematika untuk Setiap Kelas

Pada dasarnya kegiatan belajar mengajar matematika dapat dilakukan dengan berbagai strategi dan variasi sajian, misalnya permainan, diskusi, pemecahan masalah, praktek, dan lain-lain yang menarik. Alat peraga merupakan bagian penting dari perangkat pembelajaran.
Alat peraga merupakan bagian penting dari perangkat pembelajaran. Agar alat peraga yang akan digunakan sesuai dengan materi yang dibahas dan terencana dengan baik serta bermakna maksimal, seyogyanya alat peraga tersebut dirancang dan dibuat sendiri oleh guru.
Dalam kegiatan mengidentifikasi alat peraga kelas I sampai Kelas VI  guru kelas  memiliki wewanang penuh untuk melakukan kegiatan tersebut. Kegiatan mengembangkan alat peraga guru harus memiliki inovasi dan kemampuan yang kreatif agar peserta didik dapat memahmi konsep matematika yang di berikan.


PENGGUNAAN DAN PENGEMBANGAN

Kegiatan Belajar 1:Penggunaan Alat Peraga
Dalam menentukan alat peraga yang akan digunakan guru harus melakukan identifikasi SK dan KD. Dari identifikasi tersebut akan muncul materi dan minimum alat yang diperlukan dalam pembelajaran. Ada beberapa contoh alat peraga yang telah teridentifikasi sangat diperlukan dalam pembelajaran matematika sesuai KD mulai jenjang kelas I sampai dengan kelas VI sebagai berikut:
1.   Blok Dienes
Blok Dienes berfungsi untuk menanamkan konsep tentang banyak benda, Mem-bandingkan dan mengurutkan banyak benda, nilai tempat suatu bilangan (satuan, puluhan, ratusan, dan ribuan) serta operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan sesuai jenjang kelas.

2.   Blok Pecahan
Alat peraga blok pecahan dapat digunakan untuk pembelajaran pecahan di kelas III, IV, V, VI SD dalam konsep materi:
·         Membandingkan pecahan;
·         Pecahan senilai;
·         Penjumlahan dan pengurangan pecahan.
 
3.   Kartu Bilangan
Alat peraga kartu bilangan berfungsi untuk menambah keterampilan peserta didik dalam memahami atau mendalami suatu materi yang konsepnya telah dipelajari. Salah satu contoh alat peraga kartu pecahan adalah kartu permainan pecahan. Alat peraga kartu permainan pecahan ini berguna untuk membina keterampilan anak dalam mengubah pecahan biasa menjadi pecahan desimal dan sebaliknya. Setiap kartu mempunyai dua bagian yang berbeda yaitu satu bagian berisi pecahan biasa dan satu bagian berisi pecahan desimal.


Aturan permainan.
1.      Semua  kartu  dikocok,  kemudian  dibagikan  sama  banyak kepada setiap pemain. Jika ada kartu yang lebih maka disimpan terbalik.
2.      Sepakati terlebih dahulu, siapa pemain yang jalan pertama.
3.      Pemain meletakkan satu kartunya terbuka di atas meja.
4.      Pemain kedua mencari kartunya yang sesuai (pecahan biasa harus dengan pecahan desimal atau sebaliknya). Jika tidak ada yang sesuai, pemain tersebut dilewatkan.
5.      Pemain dinyatakan menang jika semua kartunya telah habis atau sisanya paling sedikit. Pemain yang kalah adalah yang  sisa kartunya paling banyak.
 
4.     Permainan Pencerminan
Contoh petunjuk cara penggunaan untuk siswa.
a. Perhatikan penjelasan gurumu untuk memulai kegiatan ini.
b. Bergabunglah bersama teman-temanmu untuk membentuk sebuah kelompok.
c. Ambil atau minta alat peraga permainan pencerminan gambar pada gurumu.
d. Perhatikan aturan permainannya sebagai berikut.
1) Ambil keping gambar asli dan sebuah keping gambar hasil.
2) Letakkan cermin pada keping gambar asli dengan posisi tegak lurus atau hampir tegak lurus sehingga terlihat seperti gambar hasil.
3) Bila guru memberi contoh peragaan, perhatikan dengan seksama.
4) Pertama-tama pilih keping gambar hasil 1, lalu carilah penyelesaiannya. Bila menemui kesulitan diskusikan dengan teman-temanmu. Catat penyelesaian yang kamu temukan dengan membuat tanda garis pada keping gambar asli dan arsir bagian gambar asli yang di belakang cermin.
5) Sekarang, lakukan hal yang sama untuk semua gambar hasil. Berilah tanda garis pada gambar asli sehingga dihasilkan gambar hasil yang berpasangan.
6) Setelah semua penyelesaian untuk gambar hasil telah kamu dapatkan, apa yang dapat kamu simpulkan?
5.     Loncat Katak
 Alat peraga ini bermanfaat untuk menemukan suatu pola bilangan dengan cara bermain. Adapun aturan penggunaannya adalah sebagai berikut:
Pindahkan dua kelompok pasak yang berlainan warna, sehingga kedua kelompok pasak tersebut akan bergantian tempat (kedua kelompok pasak dipisahkan oleh sebuah lubang dan masing-masing kelompok berdiri berjajar), dengan aturan:
a.   setiap kali melangkah hanya boleh mengangkat satu pasak, dan
b. dalam melakukan perpindahan, hanya boleh melompati satu pasak atau bergeser ke lubang di dekatnya.
Cara Kerja :
1) Ambil satu pasak yang berada paling depan (pilih salah satu), pindahkan pasak tersebut dengan cara menggeser kelubang yang ada didekatnya.
2) Ambillah pasak lainnya (yang berlainan warna) melompati pasak yang pertama kali dipindahkan.
3) Geserlah pasak (yang sewarna dengan pasak yang dipindahkan kedua) ke lubang di dekatnya.
4) Ambil pasak yang berwarna gelap melompati pasak-pasak di depannya, demikian seterusnya, sampai kedua kelompok pasak tersebut bergantian tempat.
5) Banyaknya langkah pemindahan tergantung banyaknya pasang pasak dan akan membentuk suatu pola bilangan. Untuk dapat membentuk pola bilangan, dalam pemindahan pasak dicari langkah yang terpendek.
Masalah
Berapakah banyaknya langkah perpindahan yang paling pendek yang diperlukan untuk memindahkan: 1, 2, 3, dan seterusnya sampai 7 pasang pasak.
6.     Papan Berpaku
Papan berpaku berfungsi membantu pembelajaran matematika untuk menanamkan konsep/pengertian geometri, seperti pengenalan bangun datar, pengenalan keliling bangun datar, dan menentukan/menghitung luas bangun datar. Alat peraga papan berpaku ada yang berukuran kecil untuk kelompok dan yang berukuran besar untuk klasikal.
Contoh petunjuk kerja.
a.    Letakkan papan berpaku di depan kelas, bisa digantung atau disandarkan pada benda lain. Papan berpaku dilengkapi sejumlah karet gelang dengan warna-warna yang berbeda serta dilengkapi pula dengan kertas bertitik atau kertas berpetak.
b.    Guru menugaskan kepada seorang anak untuk membentuk bangun datar yang mereka kenal pada papan berpaku klasikal. Kemudian masing-masing kelompok membentuk bangun datar sesuai dengan kreativitas mereka masing-masing.
c.     Selanjutnya anak diminta menggambar hasil yang diperolehnya pada kertas bertitik atau kertas berpetak.
d.    Guru menanyakan nama-nama bangun datar yang telah dibuat oleh anak. Namun tidak semua bangun yang dibuat punya nama, kecuali bangun-bangun datar yang khusus misal: segiempat, persegi, persegipanjang, jajargenjang, trapesium, belah ketupat, layang-layang, segitiga siku-siku, segitiga samakaki, segitiga tumpul, segitiga lancip, segitiga sembarang. Peragaan untuk pengukuran keliling dan luas secara bertahap dilanjutkan pada kelas-kelas berikutnya (dibahas pada modul pengukuran).
7. Peraga Garis Bilangan
Alat peraga ini merupakan salah satu alat untuk pembelajaran operasi penjumlahan dan pengurangan khususnya bilangan bulat negatif. Kegunaan dari peraga ini diantaranya adalah: memberikan penanaman konsep tentang letak suatu bilangan bulat pada garis bilangan dan konsep penjumlahan serta pengurangan dua bilangan bulat melalui peraga dengan pendekatan gerak.
Cara Penggunaan
1)       Guru mengingatkan kembali letak suatu bilangan pada garis bilangan, semakin besar suatu bilangan, maka letaknya akan semakin ke kanan. Semakin kecil suatu bilangan, maka letaknya semakin ke kiri.
2)       Guru mengenalkan materi letak bilangan bulat kepada peserta didik yang ditunjukkan pada garis bilangan. Peserta didik diminta untuk mengamati mistar bilangan tersebut. Apa yang dapat disimpulkan mengenai letak suatu bilangan bulat pada mistar bilangan?
3)       Guru menjelaskan kepada peserta didik bahwa alat peraga ini dapat digunakan untuk menentukan letak bilangan pada garis bilangan dan memperagakan penjumlahan dan pengurangan dua bilangan bulat.
4)       Menyepakati aturan permainan pada mistar bilangan untuk operasi hitung penjumlahan dan pengurangan.

a) Dimulai dari nol menghadap ke kanan
b) Bilangan
Positif maju
Nol diam (tidak bergerak)
Negatif mundur
c) Operasi
Tambah terus
Kurang berbalik arah

8.     Permainan Mengatur Letak Bilangan
Alat peraga ini berfungsi untuk melatih keterampilan peserta didik dalam operasi penjumlahan bilangan agar kreativitas dalam berpikir meningkat.
a.      Segitiga ajaib 6 titik
Petunjuk penggunaan alat
1)     Disediakan enam bilangan yaitu : 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 atau bilangan lainnya yang berbentuk ( Barisan Bilangan Aritmetik ) BBA. Bilangan yang digunakan disesuaikan dengan yang dipelajari anak pada jenjang kelas tertentu.

2)     Aturlah bilangan-bilangan tersebut pada tempat yang disediakan, sehingga pada setiap sisi segitiga memuat jumlah bilangan yang sama.

3)     Apabila ada peserta didik yang masih mengalami kesulitan maka perintah/tugas dapat lebih disederhanakan yaitu dengan menyebutkan jumlah bilangan yang harus siswa dapatkan, misalnya: pada setiap sisi mempunyai jumlah bilangan yang sama yaitu 9,10, 11 atau 12 (ada empat jawaban berbeda yang kesemuanya benar ).

4)     Pada awalnya biarkan anak untuk mencoba-coba dalam mengatur bilangan pada segitiga tersebut, karena dengan demikian anak akan berulangkali menjumlahkan bilangan-bilangan yang telah ia coba susun untuk mendapatkan hasil. Dari percobaan tersebut secara tidak langsung sebenarnya anak telah membuat soal penjumlahan sendiri dan dia pecahkan sendiri dan dalam proses percobaan itulah kreativitas berfikir akan berkembang. Selain itu motivasi akan timbul dengan adanya tantangan untuk memecahkan masalah.

5)     Untuk mempermudah jawaban aturlah sehingga bilangan yang terdapat pada titik-titik sudut segitiga membentuk deret hitung, yaitu : 1, 2, 3 atau 1, 3, 5 atau 2, 4, 6 atau 4, 5, 6 , yang masing-masing pasangan tersebut akan menghasilkan jumlah bilangan yang sama dari setiap sisinya.

b. Segitiga ajaib 9 titik
Disediakan sembilan bilangan yaitu : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 atau bilangan lainnya yang berbentuk BBA ( Barisan Bilangan Aritmetik ).
1)     Aturlah bilangan-bilangan tersebut pada tempat yang disediakan, sehingga pada setiap sisi segitiga memuat jumlah bilangan yang sama.

2)     Apabila ada peserta didik yang mengalami kesulitan maka perintah/tugas dapat lebih disederhanakan yaitu dengan menyebutkan jumlah bilangan yang harus peserta didik dapatkan, misalnya: aturlah bilangan satu sampai sembilan ini di tempat yang disediakan sehingga jumlah bilangan di tiap-tiap sisi segitiga sama yaitu 17 atau 19 atau 20 atau 21.
c. Persegi Ajaib 3 × 3
Disediakan sembilan bilangan yang berurutan 1 sampai dengan 9. Bagaimana caranya untuk meletakkan bilangan-bilangan tersebut, sehingga jumlah angka pada tiap baris, kolom ataupun diagonal sama.

Kegiatan Belajar 2: Pengembangan Alat Peraga
              Kegiatan selanjutnya adalah guru mengidentifikasi alat peraga yang sudah tersedia dan yang belum ada. Dari alat yang belum ada tersebut guru harus mempertimbangkan alat peraga yang sangat penting dan semestinya ada, selanjutnya guru dapat merencanakan mengembangkan dengan cara membuat alat yang sederhana.
1.       Pengembangan Alat Peraga Kartu Bilangan
Pembuatan kartu permainan bilangan.
Kartu bilangan untuk siswa ini dapat dibuat dari kertas marga atau manila dengan ukuran 5 cm × 8 cm. Yang perlu diperhatikan guru adalah kartu yang akan dibuat tersebut untuk kelas berapa dan topik apa. Ditinjau dari jumlah ada dua cara untuk mengembangkan kartu bilangan:
a.      Banyaknya kartu 28 lembar.
Satu set kartu berjumlah 28 lembar. Untuk itu guru perlu membuat daftar yang terdiri dari delapan baris dan tujuh kolom atau 56 kotak. Ini digunakan untuk pengurangan bilangan cacah kurang dari sepuluh.
Cara kerja :
Pada kolom 1 ada 8 nilai yang bervariasi dimana nilainya sama (misal kolom 1 nilainya 0 , kolom 2 nilainya 1 dan seterusnya ). Setelah 56 kotak (nilai) terisi semua baru kita beri tanda huruf-huruf dengan aturan seperti di atas. Kemudian baru kita masukkan ke dalam kartu-kartu kosong sesuai dengan huruf dalam kotak. Sehingga setiap set kartu terdapat 28 lembar.
b.     Banyaknya tidak harus 28 lembar.
Banyanya kartu yang dapat dibuat bisa 25 lembar, 36 lembar, 49 atau sejumlah fungsi yang akan dibedakan. Contoh :
Topik: mengubah persen kedalam pecahan biasa dan sebaliknya
Kita tulis bentuk persen pada bagian kiri dan bentuk pecahan yang senilai dengan bentuk persen pada kolom sebelah kanan selanjutnya dipasangkan. Sehingga jumlah seluruhnya ada 6 × 6 = 36 kartu
2.       Peraga Tali Pas
Permainan tali pas dilengkapi dengan tali. Setiap satu set kartu terdiri dari beberapa kartu dengan operasi hitung misal: penjumlahan, pengurangan, operasi perkalian, dan pembagian. Peraga tali pas ini merupakan bentuk lain atau pengembangan dari kartu bilangan yang bermanfaat untuk membina keterampilan siswa dalam hal operasi hitung bilangan, di mana operasi-operasi dasar ini sangat penting untuk dikuasai siswa saat menempuh pendidikan di SD.
Alat peraga tali pas ini dapat dibuat dari kertas karton (harus tebal) yang diberi warna menarik dengan ukuran misal: 4 cm x 10 cm. Pada ujung alat diberi lubang tempat tali pengait yang berfungsi untuk menyambungkan antara permasalahan dan hasilnya. Bilangan-bilangan yang dijumlah tergantung materi/topik dari kelas yang dijalani anak. Misal: penjumlahan fakta dasar penjumlahan dan penjumlahan bilangan puluhan.



0 komentar:

Poskan Komentar